KabarJambi.com

Kabar Jambi, Cepat, Jelas, Terpercaya

Catatan Akhir Tahun 2025 KKI WARSI, Hutan Jambi di Ambang Krisis Ekologis

KKI WARSI

markotorres.com – Jambi, yang kerap disebut sebagai jantung Sumatera, sedang tidak baik-baik saja. Hutan yang selama ratusan tahun menjadi penyangga kehidupan kini terus menyusut. Pohon-pohon yang dulu berperan sebagai “pasak bumi”, penjaga air dan iklim, satu per satu tumbang. Catatan Akhir Tahun 2025 KKI WARSI menegaskan, krisis ekologis di Jambi bukan lagi ancaman masa depan, melainkan kenyataan hari ini.

Read More : 75 Relawan Berangkat! Jambi Tunjukkan Kepedulian untuk Korban Bencana Sumatera

Laju Deforestasi Jambi Makin Mengkhawatirkan

Dalam kurun 52 tahun terakhir, Jambi telah kehilangan sekitar 2,5 juta hektare hutan. Saat ini, tutupan hutan yang tersisa hanya 929.899 hektare atau sekitar 18,54 persen dari luas daratan. Jika ditarik ke satu dekade terakhir, angkanya tetap mencemaskan. Sekitar 112.372 hektare hutan hilang, setara dengan sepuluh kali luas Kota Jambi.

Direktur KKI WARSI, Adi Junedi, menyebut kondisi ini menempatkan Jambi dalam zona kritis ekologis. “Risiko bencana bisa terjadi secara eksponensial dan pemulihannya butuh biaya besar serta waktu yang lama,” ujarnya saat Catatan Akhir Tahun KKI WARSI 2025 di Jambi, 7 Januari 2026.

Sawit, Tambang, dan Karhutla Jadi Pemicu Utama

Alih fungsi hutan menjadi perkebunan skala besar, terutama sawit, masih menjadi penyumbang terbesar hilangnya hutan. Di sisi lain, ekspansi pertambangan dan kebakaran hutan dan lahan memperparah kerusakan. Hingga 2025, citra satelit mencatat pertambangan batubara telah membuka sekitar 16 ribu hektare lahan.

Kerusakan lebih luas datang dari penambangan emas tanpa izin (PETI). Aktivitas ini terindikasi merusak lebih dari 60 ribu hektare, bahkan merambah kawasan taman nasional. Dampaknya bukan hanya pada hutan, tetapi juga sungai dan kehidupan sosial masyarakat.

Baca juga: Penganiayaan Lansia di Kota Jambi, Pria 43 Tahun Ditangkap Usai Ribut Soal Motor Bising

Ancaman Bencana Hidrometeorologi Nyata di Depan Mata

Hilangnya hutan membuat air hujan tak lagi terserap tanah. Sungai melebar, dipenuhi material bekas tambang, dan mudah meluap saat hujan deras. Banjir dan longsor pun berubah menjadi ancaman permanen. “Bencana hanya tinggal menunggu waktu,” tegas Adi.

Perhutanan Sosial, Harapan di Tengah Krisis

Di tengah krisis ekologis Jambi, masih ada kabar baik. Perhutanan sosial yang didampingi KKI WARSI menunjukkan hasil nyata. Dalam enam tahun terakhir, tutupan hutan di wilayah perhutanan sosial meningkat sekitar 20.314 hektare.

Pengelolaan hutan berbasis masyarakat ini tidak hanya memulihkan ekologi, tetapi juga menguatkan ekonomi warga melalui hasil hutan bukan kayu, agroforestri, dan ekowisata. Hutan tetap berdiri, masyarakat pun hidup. Sebuah bukti bahwa hutan yang dikelola secara adil dan partisipatif bisa menjadi masa depan Jambi yang lebih lestari.